
Daftar Isi
Jakarta, dnastay Indonesia
—
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu)
Juda Agung
buka suara soal kebijakan bank sentral
Amerika Serikat
atau The Federal Reserve (
The Fed
) yang kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4,00 persen.
Juda menanggapi potensi dampak pada obligasi berdenominasi mata uang asing atau
global bond
yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia.
Ia meyakini kebijakan The Fed terhadap
global bond
RI akan membuat adanya
repricing
, tetapi masih berada dalam batas yang wajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ya ini saya kira itu tentu saja ada
repricing
ya, tapi saya kira kita masih dalam level yang wajar lah,” ujarnya ketika ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9).
Ia mengatakan Surat Utang Negara (SUN) dalam valuta asing berdenominasi Yuan China (Panda Bond) juga akan tetap diterbitkan.
“Panda bond tetap,” ujar mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia tersebut.
[Gambas:Youtube]
Kenaikan suku bunga acuan The Fed kali ini merupakan yang pertama sejak 2023. The Fed juga mengisyaratkan masih ada peluang satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun.
The Fed menegaskan kenaikan in merupakan bagian dari upaya menekan inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak dan sejumlah faktor lainnya.
Dikutip
AFP
, keputusan kenaikan suku bunga ini diambil dengan suara bulat 12-0 oleh anggota FOMC.
“Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2 persen secara lebih cepat,” tulis The Fed dalam rilis resminya.
(dhz/ins)
Baca lagi: FOTO: Teater Misterius Berusia 500 Tahun di Afrika Diakui UNESCO
Baca lagi: 6 Bulan Berlaku, PP Tunas Lindungi 28 Juta Akun Anak
Baca lagi: Kode Pembagian Fee Percepatan Haji Terungkap di Sidang



